Mendikdasmen Tinjau Pemanfaatan IFP di Magelang, Pembelajaran Jadi Lebih Dinamis dan Kolaboratif

Laporan: Wahono

MAGELANG | SUARAGLOBAL.COM – Suasana belajar di sekolah dasar kini tak lagi monoton. Layar sentuh canggih alias Interactive Flat Panel (IFP) mulai mengubah wajah pembelajaran menjadi lebih hidup, interaktif, dan penuh antusiasme!.

Momen ini terlihat jelas saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan langsung ke SD Negeri Borobudur 2, Kabupaten Magelang, Sabtu (18/4/26). Di sana, ia menyaksikan sendiri bagaimana teknologi IFP “menghidupkan” pembelajaran Matematika di kelas V.

Di depan kelas, layar besar itu bukan sekadar alat bantu melainkan pusat aktivitas belajar. Gambar, video, hingga simulasi tampil nyata. Murid tak lagi hanya duduk diam, tetapi ikut menyentuh, menggeser, bahkan menulis langsung di layar.

Baca Juga:  Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Hadiri Peringatan HUT Bhayangkara ke-79, Tekankan Pentingnya Sinergi dan Profesionalisme

“Terima kasih para guru sudah mengajar dengan baik, anak-anak jadi semangat. Tapi pembelajaran harus tetap terintegrasi dengan pembelajaran mendalam dan penguatan karakter,” ujar Abdul Mu’ti.

Tak hanya melihat, Mendikdasmen juga berinteraksi langsung dengan para siswa. Jawaban mereka kompak: belajar jadi jauh lebih seru!

“Lebih mudah memahami pelajaran karena bisa lihat langsung gambar dan video,” ungkap salah satu siswa dengan wajah antusias.

Meski begitu, Abdul Mu’ti tetap mengingatkan pentingnya metode klasik yang tak boleh ditinggalkan.

“Menulis itu penting, supaya apa yang dipelajari bisa diingat dan melatih belajar mandiri,” pesannya.

Guru kelas V, Susanti, mengungkapkan bahwa sejak kehadiran IFP, suasana kelas berubah drastis. Pembelajaran jadi lebih variatif dan tidak membosankan.

Baca Juga:  Aksi Nyata di Hari Kartini Ketua Srikandi PP Kota Salatiga: Perempuan Agen Pencegahan Covid-19

“Anak-anak bisa langsung praktik di layar. Mereka menyentuh, menulis, bahkan menggeser objek. Jadi benar-benar terlibat,” jelasnya.

Menariknya, para siswa justru sering lebih cepat memahami fitur teknologi tersebut.

“Terkadang anak-anak sudah tahu duluan soal fitur atau permainan edukasi, lalu mengusulkan ke guru untuk dicoba di kelas,” tambahnya sambil tersenyum.

Tak hanya itu, IFP juga menjadi “senjata utama” guru dalam mengakses berbagai materi pembelajaran secara instan mulai dari video edukasi, simulasi interaktif, hingga presentasi dalam satu perangkat.

Hal senada disampaikan Kepala SD Negeri Trenten 2, Sri Muryani. Ia menilai kehadiran IFP membawa dampak signifikan terhadap semangat belajar siswa.

“Motivasi anak-anak meningkat. Mereka bisa langsung melihat dan mencari materi yang dibutuhkan. Keterlibatan dalam pembelajaran juga lebih tinggi,” ujarnya.

Baca Juga:  Bupati Lamongan Tinjau Langsung Lokasi Banjir di Desa Ketapangtelu

Sejak diterima awal tahun 2026, perangkat ini sudah digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan menunjukkan hasil yang positif.

Pemanfaatan IFP menjadi bukti bahwa teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Dengan pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa, diharapkan generasi muda tidak hanya memahami materi, tetapi juga tumbuh menjadi pembelajar aktif, kreatif, dan mandiri.

Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong transformasi pendidikan yang adaptif di era digital.

Kini, kelas bukan lagi sekadar ruang belajar melainkan ruang eksplorasi tanpa batas!. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!