Laporan: Suroto

KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Status sebagai warga relokasi ternyata tidak menyurutkan semangat warga Dusun Kedungglatik, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, untuk membangun sarana ibadah yang mereka dambakan.

Dengan kekuatan gotong royong dan swadaya, warga memulai pembangunan Masjid Baiturrohim di kawasan relokasi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Peletakan batu pertama berlangsung penuh semangat dan dihadiri warga, tokoh agama, Kepala Desa Candirejo Haryoto, Carik Miarso, perangkat dukuh, serta para Ketua RW dan RT.

Bukan seremoni biasa. Bagi warga, batu pertama yang diletakkan hari itu menjadi penanda bahwa mereka ingin segera memiliki rumah ibadah yang berdiri di tengah-tengah permukiman baru mereka.

Dengan peralatan seadanya, warga bersama-sama mengangkat dan meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Semangat gotong royong begitu terasa.

Ketua Takmir Masjid Baiturrohim, Efendi, menegaskan bahwa kebutuhan terhadap masjid bagi warga relokasi tidak bisa ditunda.

“Walaupun kami warga relokasi, kebutuhan spiritual tidak bisa ditunda. Kami butuh masjid secepatnya. Masjid bukan hanya tempat sholat, tapi pusat pendidikan, silaturahmi, dan kerukunan warga,” ujar Efendi.

Masjid Baiturrohim akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 400 meter persegi yang berada dalam satu kawasan dengan permukiman warga relokasi.

Untuk tahap awal, pembangunan dilakukan secara swadaya. Dana dihimpun dari iuran warga, donasi jamaah, serta bantuan dan partisipasi masyarakat.

Warga tidak ingin hanya menunggu. Mereka memilih bergerak dengan kemampuan yang ada.

Panitia menargetkan tahap pertama pembangunan, terutama ruang salat utama, dapat digunakan dalam waktu sekitar tiga bulan.

Baca Juga:  Mobil Hijet Hilang Kendali Tabrak Pembatas Jembatan di Cengek, Petugas Satlantas Polres Salatiga Gerak Cepat, Sopir Dilarikan ke RSI Tunas Harapan

Untuk mempercepat pekerjaan, setiap Minggu pagi warga dijadwalkan melaksanakan kerja bakti. Sementara pada hari biasa, terdapat sekitar enam tenaga kerja yang mengerjakan pembangunan.

Target tersebut tentu bukan pekerjaan ringan. Namun bagi warga Kedungglatik, keberadaan masjid dianggap sebagai kebutuhan mendasar yang harus segera diwujudkan.

“Selama Ini Kami Sholat Numpang”

Harapan besar juga disampaikan warga yang selama ini masih menggunakan tempat ibadah sementara.

Istad, salah seorang warga, mengaku terharu melihat pembangunan masjid akhirnya dimulai.

“Selama ini kita sholat numpang di masjid sementara. Alhamdulillah sekarang punya masjid sendiri. Anak-anak TPQ juga sudah tidak sabar,” ujarnya.

Masjid tersebut nantinya tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Warga berharap Masjid Baiturrohim menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang berkumpul masyarakat.

Mulai dari kegiatan TPQ, pengajian, pendidikan keagamaan, hingga kegiatan sosial dan kemasyarakatan diharapkan dapat berlangsung di masjid tersebut.

Pembangunan Masjid Baiturrohim juga tidak lepas dari proses panjang yang sebelumnya telah dilakukan warga.

Warga Kedungglatik sebelumnya pernah melakukan pembahasan dengan pihak perusahaan dan pemerintah terkait rencana penyediaan tempat ibadah bagi masyarakat yang direlokasi.

Namun, warga mengaku mendapat informasi bahwa masjid yang semula direncanakan berada di kawasan Kedungglatik justru akan dipindahkan ke lokasi lain yang dinilai terlalu jauh dari permukiman warga.

Jarak lokasi tersebut disebut mencapai sekitar dua kilometer dari kawasan warga Dusun Kedungglatik.

Warga secara tegas menyatakan keberatan terhadap rencana tersebut.

Baca Juga:  Sinergi Penuh Semangat: Halal Bihalal SAR ELPEJE dan Forpimcam Sine Pererat Kolaborasi Sosial di Ngawi

Menurut warga, sebelumnya telah tersedia lahan yang lokasinya berada di tengah-tengah permukiman masyarakat relokasi. Lahan tersebut, menurut keterangan warga, juga telah ditentukan dan mendapat persetujuan dari Bupati Semarang Ngesti Nugraha pada waktu itu.

Bagi warga, persoalan lokasi bukan sekadar soal jarak. Masjid harus mudah dijangkau seluruh warga, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat yang setiap hari menjalankan aktivitas di kawasan relokasi.

Warga Kedungglatik menilai pembangunan tempat ibadah merupakan kebutuhan utama dalam proses membangun kehidupan baru setelah relokasi.

Masjid diharapkan menjadi tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membentuk generasi yang beriman, berakhlak dan memiliki ilmu keagamaan.

“Pembangunan tempat ibadah bagi warga Kedungglatik sangat utama karena merupakan sarana utama untuk kita beribadah kepada Sang Pencipta. Masjid juga penting untuk menciptakan generasi yang beriman, berakhlak dan berilmu secara Islami,” ujar warga.

Menurut warga, masa depan anak-anak menjadi salah satu alasan kuat mengapa pembangunan masjid harus segera dimulai.

Mereka tidak ingin proses relokasi membuat aktivitas pendidikan agama bagi anak-anak ikut terhambat.

Karena itu, Masjid Baiturrohim diharapkan kelak menjadi rumah bagi kegiatan TPQ, pengajian anak-anak, pembinaan generasi muda, hingga berbagai aktivitas keagamaan lainnya.

Lebih jauh, warga membayangkan Masjid Baiturrohim menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat Kedungglatik.

Masjid nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai tempat silaturahmi, pertemuan warga, pembahasan pembangunan dusun, hingga kegiatan tradisi dan sosial seperti kirim doa serta merti dusun.

Baca Juga:  Yonif 8 Marinir Semarakkan Pameran Alutsista di NBOD 2024 Belawan, Tampilkan Kebanggaan TNI AL kepada Publik

Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol terbentuknya kehidupan baru masyarakat Kedungglatik di kawasan relokasi.

Kepala Desa Candirejo Haryoto yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi terhadap semangat warga.

Menurutnya, kondisi sebagai warga relokasi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kehidupan sosial dan keagamaan.

“Ini bukti bahwa status relokasi tidak menghalangi warga untuk beribadah dan membangun. Semoga jadi contoh dusun lain,” ujar Haryoto.

Semangat tersebut menjadi energi tersendiri bagi warga untuk melanjutkan pembangunan hingga masjid benar-benar dapat digunakan.

Meski pembangunan dimulai secara swadaya, warga menegaskan bahwa mereka tetap berharap dukungan dari pemerintah maupun perusahaan terkait yang sebelumnya terlibat dalam proses relokasi.

Warga meminta apabila terdapat alokasi anggaran untuk pembangunan Masjid Kedungglatik, bantuan tersebut dapat segera disalurkan kepada warga dan digunakan untuk pembangunan masjid di kawasan relokasi.

Bagi mereka, bantuan tersebut bukan sekadar pembangunan sebuah gedung. Dukungan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar warga yang telah berpindah tempat tinggal akibat proses relokasi.

Kini, pekerjaan telah dimulai.

Batu pertama sudah diletakkan. Cangkul mulai bergerak. Warga mulai bergotong royong.

Dari lahan seluas 400 meter persegi itulah sebuah harapan besar sedang dibangun.

Warga Kedungglatik ingin membuktikan: berpindah tempat tinggal bukan berarti kehilangan tempat untuk bersujud.

Semangat pembangunan Masjid Baiturrohim pun mereka ikat dalam sebuah pesan sederhana namun kuat:

“Walaupun Berpindah Tempat, Iman dan Ukhuwah Tetap Kuat.” (*)