Bukan Sekadar Kantor, Headquarters APCQP di Jakarta Diproyeksikan Jadi Markas Solidaritas Palestina

JAKARTA | SUARAGLOBAL.COM — Perjuangan untuk kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Quds kembali digaungkan dari Jakarta. Presiden Asia-Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP), Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menyerukan penguatan kolaborasi dan persatuan berbagai elemen masyarakat untuk memperkokoh gerakan solidaritas terhadap Palestina.
Seruan tersebut disampaikan Prof Sudarnoto dalam kegiatan SIMATINA 2026 bertajuk “Melawan Penistaan Masjidil Aqsa dan Penjajahan Palestina” yang digelar pada Senin (31/8/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum penting bagi APCQP dengan mulai beroperasinya Headquarters Asia-Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP) di Jakarta.
Kehadiran pusat koordinasi tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat komunikasi, konsolidasi, dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat di kawasan Asia Pasifik yang memiliki perhatian terhadap isu Palestina dan Al-Quds.
Bagi Prof Sudarnoto, keberadaan Headquarters APCQP tidak boleh dimaknai sebatas kehadiran sebuah kantor organisasi. Lebih dari itu, tempat tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk mempertemukan berbagai kekuatan masyarakat dan menggerakkan kerja kolaboratif bagi perjuangan Palestina.
“Menjadi motor penggerak kolaborasi lintas sektor, menyinergikan kekuatan lembaga filantropi, jaringan kampus, gerakan pemuda, dan diplomasi parlemen untuk satu tujuan, kemerdekaan penuh bagi Palestina dan pembebasan Al-Quds,” ujarnya.
Prof Sudarnoto menilai, persoalan Palestina merupakan isu yang membutuhkan keterlibatan luas dari berbagai kelompok masyarakat. Setiap elemen, menurutnya, memiliki kapasitas dan kekuatan yang dapat disinergikan untuk membangun dukungan yang lebih kuat.
Karena itu, ia mendorong agar parlemen, ulama, akademisi, pemuda, perempuan, hingga kalangan profesional tidak bergerak sendiri-sendiri.
Persatuan tersebut dinilai penting agar berbagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Prof Sudarnoto secara terbuka mengajak berbagai elemen masyarakat untuk menyatukan langkah.
“Marilah parlemen bersatu, marilah ulama bersatu, marilah akademisi bersatu, marilah pemuda bersatu, marilah kaum perempuan bersatu, dan semua kaum profesional bersatu mengepung Israel,” serunya.
Seruan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa gerakan solidaritas Palestina yang didorong APCQP ingin melibatkan sebanyak mungkin unsur masyarakat.
Mulai dari kekuatan intelektual di lingkungan perguruan tinggi, energi generasi muda, peran ulama, kapasitas perempuan, jaringan profesional, hingga jalur diplomasi parlemen diharapkan dapat saling memperkuat.
Beroperasinya Headquarters APCQP di Jakarta menjadi bagian penting dari upaya memperkuat jejaring solidaritas Palestina di kawasan Asia Pasifik.
Jakarta diposisikan sebagai salah satu titik koordinasi untuk mempertemukan anggota koalisi dan berbagai mitra yang memiliki komitmen terhadap isu kemanusiaan serta perjuangan Palestina.
Prof Sudarnoto menegaskan, Headquarters APCQP merupakan ruang bersama yang dapat digunakan untuk memperkuat koordinasi berbagai agenda.
Ia bahkan menggambarkan keberadaan Headquarters tersebut sebagai markas bersama perjuangan.
“Headquarters ini adalah milik Anda semua. Ini adalah ruang kerja bersama kita. Ini adalah markas besar perjuangan kita,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa APCQP ingin membangun Headquarters sebagai pusat aktivitas kolaboratif, bukan hanya ruang administratif organisasi.
Dari tempat tersebut, koordinasi dengan berbagai lembaga dan jaringan di kawasan Asia Pasifik diharapkan semakin mudah dilakukan.
Prof Sudarnoto juga menekankan pentingnya kerja nyata dalam gerakan solidaritas Palestina.
Dukungan terhadap Palestina, menurutnya, tidak berhenti pada pernyataan keprihatinan. Berbagai elemen masyarakat didorong untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, termasuk melalui penyaluran bantuan kemanusiaan dan penguatan komunikasi publik.
Selain bantuan, penyebarluasan narasi mengenai keadilan Palestina kepada masyarakat internasional juga menjadi perhatian.
Menurut Prof Sudarnoto, suara solidaritas dari Asia Pasifik perlu disampaikan secara lebih luas sehingga masyarakat dunia mengetahui sikap dan kepedulian kawasan tersebut terhadap Palestina.
“Mari kita rapatkan barisan, kita salurkan bantuan terbaik, kita gaungkan narasi keadilan dalam bahasa global, dan kita pastikan dunia tahu bahwa Asia Pasifik berdiri tegak di sisi Palestina sampai titik darah penghabisan,” ujarnya.
Pesan tersebut memperlihatkan adanya dua jalur gerakan yang ingin diperkuat, yakni kerja kemanusiaan secara langsung dan diplomasi publik melalui penyebarluasan narasi keadilan.
Dengan mulai beroperasinya Headquarters APCQP di Jakarta, organisasi tersebut berharap jaringan solidaritas Palestina di kawasan Asia Pasifik semakin terhubung.
Koordinasi antarlembaga filantropi, kampus, organisasi pemuda, parlemen, ulama, kelompok perempuan, dan kalangan profesional diharapkan dapat berjalan lebih terarah.
Kekuatan yang selama ini tersebar di berbagai sektor masyarakat dapat dipertemukan dalam agenda bersama yang lebih terorganisasi.
Bagi APCQP, kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk memperkuat perjuangan diplomasi, kemanusiaan, pendidikan, dan komunikasi publik terkait Palestina.
Momentum SIMATINA 2026 pun menjadi panggung untuk menegaskan kembali pentingnya solidaritas terhadap Palestina sekaligus memperkenalkan peran Headquarters APCQP di Jakarta.
Pada akhirnya, keberadaan pusat koordinasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan berbagai agenda seremonial, tetapi juga melahirkan kerja konkret yang memberi dampak bagi perjuangan kemanusiaan dan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Dari Jakarta, APCQP ingin menghubungkan berbagai kekuatan di Asia Pasifik dalam satu jejaring perjuangan. Pesannya jelas: persatuan, kolaborasi, dan kerja nyata harus berjalan beriringan untuk memperkuat dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Quds. (Yuan)












Tinggalkan Balasan