Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo didorong naik kelas. Bukan lagi sebatas program keterampilan yang berakhir di ruang praktik, Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur ingin karya siswa benar-benar memiliki nilai ekonomi, menemukan pelanggan, dan mampu bertahan di tengah persaingan pasar.

Dorongan tersebut disampaikan Kepala Dindik Jawa Timur Aries Agung Paewai saat Dindik Jatim bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) program SMA Double Track di Ponorogo, Kamis (3/9/2026).

Bagi Aries, keberhasilan Double Track tidak cukup diukur dari berapa banyak siswa yang mengikuti pelatihan atau berapa produk yang berhasil dibuat.

Lebih jauh, sekolah harus mampu mengantarkan siswa dari tahap belajar keterampilan, menghasilkan produk, menemukan konsumen, hingga membangun usaha yang berkelanjutan.

“Lewat FGD ini, sekolah bisa menyampaikan praktik baik, tantangan dan kendala yang dihadapi. Kita juga menghadirkan alumni untuk melihat sejauh mana Double Track memberikan dampak terhadap usaha yang mereka rintis,” ujar Aries, Jumat (4/9/2026).

Monev Tak Lagi Sekadar Seremonial

Ada perubahan pola dalam pelaksanaan monev Double Track tahun ini.

Dindik Jatim mengurangi kegiatan seremonial dan memperkuat forum focus group discussion (FGD). Forum tersebut menjadi ruang bertemunya sekolah, pendamping, serta alumni untuk membicarakan kondisi program secara lebih terbuka.

Sekolah memaparkan praktik baik sekaligus perkembangan usaha siswa. Sementara alumni yang telah memasuki dunia kerja maupun merintis usaha membagikan pengalaman mereka setelah mengikuti Double Track.

Dengan pola tersebut, evaluasi diharapkan tidak berhenti pada laporan administratif.

Aries menekankan bahwa setiap evaluasi harus melahirkan langkah perbaikan yang konkret.

Ia bahkan mengingatkan sekolah agar tidak hanya mengejar angka transaksi. Sebab, angka penjualan yang tinggi belum tentu menunjukkan sebuah usaha mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Target kita bukan sekadar tentang angka transaksi. Melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.

631 Siswa Aktif, 109 Kelompok Usaha

Program SMA Double Track di Ponorogo saat ini berjalan di 10 sekolah dengan 22 rombongan belajar kelompok pembelajaran.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Soroti Capaian Awal Pemerintahan Membanggakan, Swasembada Pangan Jadi Kunci Kemandirian

Sebanyak 631 siswa aktif mengikuti program tersebut. Mereka mengembangkan berbagai keterampilan melalui 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS).

Sepuluh sekolah yang menjalankan program tersebut yakni SMAN 1 Sambit, SMAN 1 Badegan, SMAN 1 Slahung, SMAN 1 Jenangan, SMAN 1 Kauman, SMAN 1 Ngrayun, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Bungkal, SMAN 1 Balong dan SMAN 1 Sampung.

Program tersebut juga telah menghasilkan 4.289 alumni.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.824 alumni atau 42,47 persen tercatat telah bekerja. Sementara 366 alumni memilih jalur wirausaha.

Dari sisi transaksi, program Double Track Ponorogo mencatat sekitar Rp161,1 juta dari target Rp214,7 juta. Artinya, capaian transaksi berada di angka 75,79 persen.

Meski angka tersebut belum memenuhi target, Aries meminta sekolah tidak terjebak mengejar nominal transaksi semata.

Menurut dia, yang lebih penting adalah bagaimana sekolah mampu membangun sistem usaha yang dapat berkembang setelah program selesai.

Produk Siswa Harus Menjawab Kebutuhan Konsumen

Aries juga meminta sekolah mengubah cara pandang terhadap Double Track.

Keterampilan siswa tidak boleh hanya berhenti pada kemampuan membuat sesuatu.

Produk yang dihasilkan harus menjawab kebutuhan konsumen.

Dengan kata lain, siswa harus memahami bahwa membuat produk hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dikenal, dipercaya, dibeli dan kembali dipesan konsumen.

Untuk itu, Aries mendorong penerapan konsep 5P: pelajari, produksi, pasarkan, pelanggan, dan perbesar.

Konsep tersebut menjadi alur agar siswa tidak berhenti pada keterampilan teknis.

Mereka harus mempelajari kebutuhan pasar, memproduksi barang atau jasa yang relevan, memasarkannya, membangun pelanggan, kemudian memperbesar skala usaha.

“Jangan berhenti ketika murid hanya membuat produk. Dorong untuk menciptakan karya yang bernilai, berani memasarkannya, mampu membuat orang percaya dan membeli, serta terus mengembangkan menjadi peluang nyata,” kata Aries.

Tak Perlu Banyak Produk, yang Penting Ada yang Hidup

Jenis kompetensi yang dikembangkan melalui Double Track cukup beragam.

Mulai dari makanan dan minuman, busana, kecantikan, desain, fotografi, digital hingga berbagai jenis jasa.

Namun Aries mengingatkan sekolah agar tidak memaksakan diri mengembangkan semua bidang sekaligus.

Sekolah justru diminta memilih kompetensi yang paling potensial berdasarkan karakter siswa, kemampuan sekolah dan kebutuhan pasar.

Baca Juga:  Ribuan Cyclist Serbu Mapolda Jatim! Bromo KOM XII Resmi Dibuka, Sambut Hari Bhayangkara ke-80

Untuk sekolah yang telah memiliki produk potensial, pengembangannya perlu diarahkan menjadi produk unggulan.

Setiap sekolah dianjurkan memiliki sedikitnya satu dan maksimal tiga produk unggulan.

Produk tersebut kemudian harus terus diperbaiki dari berbagai sisi, mulai kualitas, branding, kemasan hingga katalog.

Strategi pemasaran pun harus dibuat lebih kreatif agar produk siswa tidak hanya dikenal di lingkungan sekolah.

Aries juga menyoroti pentingnya repeat order.

Sebab, mendapatkan pembeli baru memang penting, tetapi mempertahankan pelanggan juga menjadi tanda bahwa sebuah produk memiliki kualitas dan daya saing.

“Satu sekolah tidak perlu hebat di semua hal. Tetapi setiap sekolah harus punya sesuatu yang benar-benar hidup,” ujarnya.

Tiga Lapisan Pasar Jadi Sasaran

Untuk memperluas pemasaran, Aries mendorong sekolah memanfaatkan tiga lapisan pasar.

Pertama, pasar internal sekolah.

Lingkungan sekolah dapat menjadi laboratorium awal bagi siswa untuk menguji produk, menentukan harga dan membaca respons konsumen.

Kedua, pasar lokal Ponorogo.

Setelah produk mulai menemukan bentuk, siswa harus berani keluar dari lingkungan sekolah. Kerja sama dengan komunitas dan pelaku UMKM dapat menjadi salah satu pintu untuk memperluas pasar.

Sekolah juga didorong agar produk siswa dapat masuk ke dalam rantai pasok usaha lokal.

Ketiga, pasar digital.

Aries melihat ruang digital sebagai peluang besar untuk memperluas jangkauan produk siswa.

Sekolah dapat memanfaatkan katalog digital, membuat konten kreatif, menampilkan produk secara menarik serta menyediakan sistem pemesanan yang cepat dan mudah.

“Pasar digital harus membuat semua sekolah memiliki etalase yang sama luasnya,” tutur Aries.

Dengan pemasaran digital, produk dari sekolah di wilayah mana pun di Ponorogo memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas.

Guru Tak Hanya Mengajar, Tapi Menjadi Mentor

Penguatan Double Track juga tidak bisa dibebankan kepada siswa seorang diri.

Aries meminta ekosistem program diperkuat melalui pembagian peran yang jelas.

Kepala sekolah harus mampu menentukan prioritas, membangun jejaring dan memantau perkembangan usaha siswa.

Sementara guru atau trainer diharapkan tidak sekadar mengajarkan keterampilan teknis.

Mereka juga harus menjadi mentor sekaligus penghubung siswa dengan dunia pasar.

Baca Juga:  Proyek Multy Years Di Cilacap Diundur Karena Adanya Pandemi Covid-19

Di sisi lain, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) diharapkan semakin aktif terlibat.

Keterlibatan DUDI dapat dilakukan melalui penyelarasan kurikulum keterampilan, menghadirkan guru tamu, menyediakan tempat magang, membantu fasilitas dan bahan praktik, membuka akses pasar hingga memberikan peluang kerja bagi lulusan.

“Double Track adalah tanggung jawab bersama. Setiap pihak memiliki peran. Setiap peran menentukan keberhasilan,” tegas Aries.

Enam Indikator Jadi Alat Ukur

Untuk memastikan program berjalan lebih terarah, Dindik Jatim menetapkan enam indikator kinerja utama atau KPI.

Keenam indikator tersebut meliputi:

Kompetensi

Unggulan

Pasar

Transaksi

Kemitraan

Alumni

Enam indikator itu diharapkan menjadi alat ukur yang lebih komprehensif.

Sekolah tidak cukup hanya membuktikan siswa mampu melakukan praktik. Mereka juga harus mampu menunjukkan bahwa keterampilan tersebut dapat menghasilkan produk, menemukan pasar, menciptakan transaksi, membangun kemitraan dan memberikan dampak setelah siswa lulus.

Karena itu, hasil monev di Ponorogo diharapkan segera ditindaklanjuti dengan pembenahan di masing-masing sekolah.

Aries ingin sekolah semakin peka membaca perubahan kebutuhan pasar, menentukan produk unggulan, memperluas jejaring kemitraan dan mengoptimalkan pemasaran digital.

“Kami berharap setelah monev ini ada perbaikan nyata. Sekolah harus semakin mampu membaca kebutuhan pasar, memperkuat produk unggulan, membangun kemitraan dan memanfaatkan pemasaran digital,” pungkas Aries.

Dari Keterampilan Menuju Kemandirian

Program Double Track di Ponorogo kini menghadapi tantangan yang lebih besar.

Dengan ratusan siswa aktif, 109 kelompok usaha dan ribuan alumni, program tersebut tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang bisa membuat produk.

Tahap berikutnya adalah menciptakan siswa yang mampu membaca peluang, memahami konsumen, menjual produk, menjaga pelanggan dan mengembangkan usaha.

Inilah arah yang ingin dibangun Dindik Jatim.

Double Track diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar keterampilan di sekolah, tetapi benar-benar menjadi jembatan menuju dunia kerja dan kewirausahaan.

Jika konsep tersebut berjalan konsisten, maka produk siswa bukan lagi sekadar karya untuk memenuhi tugas pembelajaran.

Lebih dari itu, produk tersebut bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi setelah mereka meninggalkan bangku sekolah. (*)