Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM — Siapa bilang membicarakan toleransi harus selalu serius? Di Salatiga, keberagaman justru dirayakan dengan cara yang lebih ringan: melalui tawa. Di atas panggung stand-up comedy, isu perbedaan, identitas, agama hingga budaya lokal dikemas menjadi materi humor yang menghibur sekaligus mengajak masyarakat berpikir.

Semangat itulah yang dibawa Festival Humor Salatiga, sebuah rangkaian kegiatan yang digelar Komunitas Standupindo Salatiga dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah UIN Salatiga.

Festival ini tidak sekadar menghadirkan kompetisi komedi. Lebih dari itu, panggung humor dijadikan ruang perjumpaan bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Humor ditempatkan sebagai bahasa komunikasi sosial yang memungkinkan isu keberagaman dibicarakan secara santai, kreatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Rangkaian Festival Humor Salatiga diawali dengan pelatihan stand-up comedy dan public speaking bertajuk “Komika Goes to School”. Kegiatan tersebut menyasar pelajar SMA/SMK di Kota Salatiga dan dimulai melalui kick off pada 10 Agustus 2026 di Pansi Coffee & Community Hub.

Sejumlah perwakilan siswa SMA/SMK mengikuti pelatihan bersama Ondy Setya, komika asal Salatiga. Kegiatan kemudian berlanjut ke tiga sekolah, yakni SMK PGRI 2 Salatiga bersama Toat Abdaul, SMA Sainstek Ahmad Dahlan Salatiga bersama Thesar Yanuar, serta SMA Negeri 2 Salatiga bersama Alan Tamalagi.

Para siswa tidak hanya diajari bagaimana membuat penonton tertawa. Mereka juga diperkenalkan pada proses mengolah pengalaman, kegelisahan maupun keresahan menjadi materi komedi yang komunikatif.

Menurut Ondy Setya, setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan menyampaikan keresahan. Kemampuan tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui teknik humor sehingga menjadi materi stand-up comedy yang menarik.

“Kita semua sebenarnya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang menjadi dasar menyampaikan keresahan. Stand-up comedy berkaitan dengan itu, tinggal dipoles dengan humor untuk mendapat tawa,” ujar Ondy di Pansi Coffee & Community Hub.

Hal senada disampaikan Toat Abdaul saat memberikan pelatihan di SMK PGRI 2 Salatiga. Menurutnya, seorang komika tidak cukup hanya memiliki keberanian tampil di atas panggung. Komika juga harus memahami alasan sebuah materi dapat mengundang tawa dari penonton.

Baca Juga:  WBP Rutan Salatiga Siap Sukseskan Pemilu 2024

Dari proses pelatihan itu, para peserta kemudian diajak memahami bahwa humor bukan hanya soal punchline dan gelak tawa. Humor juga dapat menjadi sarana membangun komunikasi ketika masyarakat memiliki latar belakang, pengalaman, maupun pandangan yang berbeda.

Dari Ruang Kelas Naik ke Panggung Kompetisi

Setelah mengikuti pelatihan, para siswa mendapat kesempatan menguji kemampuan mereka dalam kompetisi stand-up comedy bertajuk “Clash of Comedy” (COC) yang digelar pada 28 Agustus 2026 di Pansi Coffee & Community Hub.

Kompetisi tersebut terbagi dalam dua kategori, yakni pelajar dan umum. Kategori pelajar diikuti siswa yang sebelumnya mengikuti program pelatihan, sedangkan kategori umum terbuka bagi masyarakat luas.

Kategori pelajar digelar pada siang hari, sementara kategori umum berlangsung pada malam hari. Panggung COC pun berubah menjadi ruang ekspresi. Berbagai materi komedi dibawakan para peserta, termasuk materi yang menyentuh isu keberagaman, toleransi dan budaya lokal.

Namun, panggung tersebut bukan sekadar tempat mencari siapa yang paling lucu. Di balik kompetisi, para peserta belajar bagaimana menyampaikan gagasan, membaca situasi, membangun komunikasi dengan penonton, sekaligus menyampaikan keresahan sosial tanpa kehilangan unsur hiburan.

Dari kompetisi itu kemudian terpilih lima finalis dari masing-masing kategori untuk melaju ke babak grand final. Proses penilaian dilakukan oleh tiga juri, yakni Bob Sadoni, komika Salatiga; Widi Arie, Founder Komunitas Standupindo Salatiga; serta Victor yang menjadi delegasi GKJTU Salatiga.

Bagi lingkungan sekolah, kegiatan tersebut juga dinilai memberikan pengalaman positif bagi para siswa.

Supariyatun, guru pendamping lomba dari SMA Negeri 2 Salatiga, mengungkapkan bahwa proses membuat materi stand-up comedy mampu mendorong kreativitas sekaligus melatih kemampuan berpikir siswa.

“Saya kemarin melihat proses kreatif murid saat membuat materi stand-up comedy. Tidak hanya mengemasnya menjadi hiburan komedi tetapi juga mendorong murid berpikir kritis, tanggap pada isu sosial serta melatih ketajaman analitis, misalnya isu keberagaman dan toleransi. Hal ini menjadi bekal bagus untuk menghadapi dunia nyata kelak,” ujarnya.

Baca Juga:  Ada Kades di Kecamatan Bawen Rangkap Jadi Wartawan, Dipertanyakan?

Puncak Festival, Humor dan Toleransi Dibedah

Perjalanan Festival Humor Salatiga mencapai puncaknya pada 10 September 2026. Bertempat di UIN Salatiga, Komunitas Standupindo Salatiga menggelar Seminar Nasional Humor dan Grand Final Clash of Comedy dengan mengusung tema “Tertawa Bersama, Indonesia Bersatu: Antara Humor, Keberagaman dan Identitas”.

Kegiatan tersebut kembali menggandeng DEMA Fakultas Dakwah UIN Salatiga serta mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan dan LPDP.

Penyelenggara melihat kebutuhan untuk mempertemukan isu toleransi di Kota Salatiga dengan ruang humor dan komedi. Keberagaman dalam kehidupan masyarakat memang dapat menjadi kekuatan, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi memunculkan gesekan ketika tidak dikelola dengan baik.

Humor kemudian ditawarkan sebagai salah satu cara untuk membuka percakapan mengenai perbedaan. Dengan pendekatan yang lebih ringan, berbagai isu yang sensitif dapat diperbincangkan tanpa harus selalu berada dalam suasana yang kaku.

Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.Og, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, Festival Humor Salatiga menarik karena mampu mempertemukan sisi akademis dan hiburan sekaligus mengangkat humor sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

“Kegiatan ini sangat menarik karena menggabungkan sisi akademis dan sisi hiburan serta mengangkat humor sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Salatiga, Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag, menilai humor dapat membuat komunikasi menjadi lebih cair. Namun, kebebasan dalam humor tetap harus disertai batas etika agar humor tidak berubah menjadi sesuatu yang justru melukai pihak lain.

Pandangan mengenai humor sebagai ruang perjumpaan juga disampaikan Dr. M. Najib Azca, M.A. Dalam seminar nasional tersebut, ia menyebut keberadaan komunitas stand-up comedy di Salatiga dapat menjadi ruang perjumpaan identitas.

Menurutnya, kota yang sama sekali tidak memiliki lelucon lintas identitas belum tentu merupakan kota yang paling aman. Bisa jadi, kota tersebut justru belum pernah benar-benar diuji dalam mengelola perbedaan.

Sementara itu, Dr. Hendi Pratama, M.A, menilai kebebasan menyampaikan keberagaman yang dibalut humor dapat membuat pesan lebih mudah diterima dan disampaikan secara konsisten.

Baca Juga:  Polda Jateng Ungkap Peredaran Sabu di Surakarta, Residivis dan Barang Bukti Diamankan 

Grand Final Jadi Panggung Pembuktian

Usai seminar, suasana berubah menjadi lebih riuh ketika Grand Final Clash of Comedy dimulai. Sepuluh finalis yang terdiri dari lima finalis kategori pelajar SMA/SMK se-Kota Salatiga dan lima finalis kategori umum tampil bergantian di hadapan penonton.

Materi yang disampaikan tidak jauh dari tema besar festival. Keberagaman, identitas, agama hingga budaya lokal menjadi bagian dari materi sejumlah finalis.

Namun, masing-masing peserta memiliki cara sendiri dalam mengemasnya. Ada yang mengandalkan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi hingga fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka.

Setelah melalui proses penilaian, kategori umum menghasilkan tiga pemenang. Yordan keluar sebagai juara pertama, disusul Alan sebagai juara kedua dan Toat sebagai juara ketiga.

Sementara kategori SMA/SMK menempatkan Syakilla dari SMK Negeri 2 Salatiga sebagai juara pertama. Juara kedua diraih Aufa dari SMA Islam Al Azhar 30 Salatiga.

Babak grand final kemudian ditutup dengan penampilan bintang tamu Chairul Mukmin, juara pertama SUCI 12 Kompas TV, yang semakin menghidupkan suasana malam penutupan festival.

Tawa yang Menyatukan

Festival Humor Salatiga pada akhirnya meninggalkan pesan bahwa toleransi tidak selalu harus dibicarakan dengan bahasa yang berat. Ada kalanya sebuah perbedaan justru lebih mudah didekati melalui tawa.

Di panggung stand-up comedy, masyarakat dapat melihat bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus selalu dijauhi. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi bahan percakapan, refleksi dan kreativitas selama disampaikan dengan tanggung jawab serta tetap menghormati batas etika.

Bagi Salatiga yang dikenal dengan kehidupan masyarakatnya yang beragam, Festival Humor Salatiga menjadi cerita tersendiri. Tawa tidak sekadar menjadi tujuan akhir sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan.

Dari sekolah, para pelajar belajar berbicara dan berpikir kritis. Dari panggung kompetisi, mereka belajar menyampaikan gagasan. Dan dari seminar nasional, masyarakat diajak melihat humor dari sudut yang lebih luas: sebagai bagian dari budaya, komunikasi dan kehidupan sosial.

Sebab, ketika perbedaan mampu dibicarakan tanpa saling menjauh, mungkin tawa memang bisa menjadi salah satu bahasa paling sederhana untuk mempertemukan manusia. (*)