Laporan: Heru Santoso

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Komunitas Alumni GMNI Kota Salatiga mengawali langkah barunya melaksanakan program pemerintah terkait dengan “ketahanan pangan” yang diwujudnyatakan melalui menanam padi di sawah. Langkah ini merupakan hasil diskusi terkait dengan pertanian peninggalan nenek moyang. Selanjutnya dengan mengaplikasikan metode yang digunakan dari hasil penelitian literasi khususnya bagaimana nenek moyang kita dulu dalam menanam padi hingga berhasil panen dan menjadi beras. Demikian diungkapkan Bintar Lulus Pradipta, salah satu Penggerak Komunitas Alumni GMNI Kota Salatiga, disela panen raya padi, Kamis (29/10/2026) pagi.

“Dari dasar itulah dan diinisiasi oleh senior alumni GMNI yakni Mas Lilik (alumni Fakultas

Kedokteran Hewan UGM) yang telah melakukan penelitian selama kurang lebih 15 tahun, akhirnya berhasil menemukan bagaimana menanam padi seperti apa yang dilakukan nenek moyang itu hingga ditemukanlah metode yang diberi nama “WaNeMo”. Artinya adalah “Warisan Nenek Moyang” dan jenis padi yang kita tanam ini jenisnya “Rojo Lele” pada lahan sawah seluas kurang lebih 1.600 meter persegi di wilayah Cabean RT 05 RW 01, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga,” jelas Bintar Lulus Pradipta, yang juga alumni UGM Yogyakarta.

Baca Juga:  Konsisten Jaga Kerukunan, Salatiga Kembali Raih Peringkat Pertama Indeks Kota Toleran 2025

Penanaman sudah dilakukan dan untuk pemupukannya dengan menggunakan pupuk kandang maupun pengendali hama dari bahan alami. Selain itu, dengan melakukan ‘jajar legowo’ 21 dengan jarak jajar 30 centimeter dan legowonya 50 centimeter. Dan perlu diketahui juga, bahwa sebelum dilakukan penanaman pagi ini, lebih dulu mengolah tanah dari kondisi “tanah bero” atau bisa dikatakan tanah atau lahan tidak terawat.

“Awalnya saat melihat dan mengetahui lahan ini, kita ragu-ragu, karena lahan atau tanah bero kurang lebih selama 3 tahun tidak terawat. Sebelumnya, hanya ditanami ketela pohung dan banyak ditumbuhi rumput ilalang hingga tingginya mencapai 2 meter. Selanjutnya, kita bersihkan atau habisi tanaman ketela dan rumput ilalang itu dan pembersihan dengan menggunakan pemotong rumput ini memakan waktu 3 hari. Setelah bersih, akhirnya kita olah tanahnya dengan mengawalinya menebar pupuk kandang yakni dari kotoran kambing,” ujar Bintar, lebih lanjut.

Baca Juga:  Jejak Juang Pahlawan Jadi Inspirasi, Polwan Polres Salatiga Gelar Ziarah dan Tabur Bunga di TMP Dharma

Yang mengejutkan dalam pemberian pupuk adalah, dengan luas lahan 1.600 meter persegi itu standarnya atau normalnya diberi pupuk kurang lebih 5 kuintal namun justru diberi/ditebar kurang lebih mencapai 1,5 ton. Ini bisa dibilang “over dosis”. Pupuk kandang yang digunakan berupa “inthil wedhus” (kotoran kambing) sebanyak itu ada 80 zak. Setelah ditebari pupuk kandang, lalu dibiarkan terlebih dulu atau didiamkan kurang lebih satu minggu hingga 10 hari.

“Usai proses tersebut, kita lanjut dengan menngolah lahan menggunakan traktor. Kemudian, lahan sawah siap ditanami padi. Untuk penanamannya pun lain dari yang lain. Jika yang sudah biasa adalah “tandur” (nata mundur), namun kita justru menggunakan “taju” (nata maju). Dengan model “taju” ini, lebih dulu dibuatkan saluran kecil penanaman atau banyak disebut dengan membuat larik. Kemudian, baru ditanam satu barang, ini juga tidak seperti yang lazim dilakukan petani. Diakui, awalnya model tanam ini sepertinya tidak mau berkembang, namun akhirnya justru mekarnya lebih bagus. Dan setelah mekar itu, kita hitung bsa menjadi kurang lebih 80 batang padi. Ini kan lain dari yang lain,” kata Bintar didampingi Anton dan Noval, disela istirahat memanen padi.

Baca Juga:  HUT RI Rasa Panggung Wayang! Punakawan, Srikandi dan Gatotkaca Ramaikan Upacara di Sinoman

Lebih lanjut, Bintar menambahkan bahwa lahan sawah ini adalah milik Mbah Bejo warga Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti. Lahan ini dipilih untuk ditanami padi dengan metode “WaNeMo” setelah melihat langsung lahan tersebut tidak terawat.

“Saat memanen padi sekarang ini, melibatkan kurang lebih 10 petani warga Cabean. Bahkan, jeraminya juga dimanfaatkan untuk makanan ternak yang dimiliki para petani tersebut. Target panen yakni 5 kwintal dan diharapkan menghasilkan beras sebanyak 3 kwintal. Ini merupakan target pemula dari kami,” pungkas Bintar didampingi Sadimin, salah seorang petani penggarap sawah. (*)