Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Peringatan Bulan Bung Karno kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah pembangunan bangsa. Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, berbagai kalangan mengingatkan bahwa kebudayaan tidak boleh dikesampingkan karena merupakan fondasi utama pembentukan karakter dan identitas bangsa.

Semangat yang diwariskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali digaungkan sebagai pengingat bahwa pembangunan nasional harus berjalan seimbang antara aspek ekonomi, politik, dan kebudayaan. Gagasan tersebut dinilai masih sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.

Sejumlah pemerhati budaya menilai pemerintah daerah perlu mengambil peran lebih besar dalam memperkuat ruang-ruang kebudayaan yang hidup, terbuka, dan berkelanjutan. Ruang budaya dinilai bukan sekadar tempat penyelenggaraan acara seremonial, melainkan wadah tumbuhnya kreativitas, dialog sosial, hingga lahirnya berbagai gagasan yang memperkaya kehidupan masyarakat.

Penulis sekaligus pengamat budaya, Meimura, menegaskan bahwa kebudayaan harus kembali ditempatkan sebagai salah satu pilar utama pembangunan. Menurutnya, konsep berdikari yang selama ini identik dengan kemandirian ekonomi dan politik juga memiliki dimensi kebudayaan yang tidak kalah penting.

Baca Juga:  Aksi Angkutan Umum Ugal-Ugalan "Oleng" Di Jalan Veteran Pengemudi Di Amankan Petugas kepolisian

“Bung Karno mengajarkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki kepribadian dalam kebudayaan. Kebudayaan membentuk cara berpikir, karakter, dan jati diri bangsa. Tanpa itu, pembangunan akan kehilangan arah,” ujarnya.

Meimura menjelaskan, pembangunan yang hanya berorientasi pada aspek fisik berpotensi mengabaikan nilai-nilai sosial yang menjadi ruh kehidupan masyarakat. Karena itu, ruang kebudayaan harus mendapat perhatian yang sama dengan pembangunan sektor lainnya.

Menurutnya, keberadaan komunitas seni, sanggar budaya, kelompok teater, komunitas sastra, hingga lembaga kesenian memiliki peran strategis dalam menjaga dinamika kebudayaan di tengah masyarakat. Dari ruang-ruang tersebut lahir kreativitas, inovasi, serta kritik sosial yang sehat sebagai bagian dari proses pembangunan demokrasi.

“Ruang budaya adalah tempat masyarakat belajar berpikir kritis, menghargai perbedaan, sekaligus menjaga warisan nilai yang dimiliki bangsa. Karena itu, keberadaannya harus terus diperkuat,” katanya.

Khusus di Surabaya, Meimura menilai berbagai fasilitas dan institusi kebudayaan yang telah ada perlu mendapatkan dukungan berkelanjutan. Keberadaan Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya, serta berbagai komunitas seni lokal dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak perkembangan budaya kota.

Baca Juga:  Gudang Petasan Rumahan Digerebek! 3 Kg Bubuk Mercon Siap Edar Disita Polres Malang

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa fasilitas budaya tidak boleh hanya berfungsi sebagai gedung atau tempat kegiatan semata. Lebih dari itu, ruang budaya harus menjadi pusat pertumbuhan kreativitas masyarakat yang mampu melahirkan karya-karya baru dan memperkuat identitas daerah.

“Fasilitas yang ada harus benar-benar hidup. Bukan hanya digunakan saat ada acara tertentu, tetapi menjadi ruang interaksi yang terus melahirkan gagasan dan karya,” jelasnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah agar lebih aktif melibatkan pelaku budaya dalam proses penyusunan kebijakan pembangunan. Menurutnya, keterlibatan komunitas budaya dapat menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif, berimbang, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam pandangannya, kebudayaan tidak boleh diperlakukan sebagai sektor pelengkap atau bahkan dianggap sebagai beban anggaran. Sebaliknya, kebudayaan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat besar bagi masa depan daerah.

“Daerah yang mengabaikan kebudayaan berisiko kehilangan identitas, karakter, bahkan daya saingnya. Sebaliknya, daerah yang mampu merawat kebudayaannya akan memiliki kekuatan sosial yang lebih kokoh,” ungkapnya.

Baca Juga:  Dari Argo Dumilah ke PT Palawi, Srambang Park Tetap Jadi Primadona Tempat Wisata di Lereng Lawu

Melalui momentum Bulan Bung Karno, Meimura mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan tersebut sebagai ruang refleksi bersama. Menurutnya, penghormatan terhadap Bung Karno tidak cukup dilakukan melalui seremoni tahunan, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata yang berpihak pada kemajuan kebudayaan.

Ia berharap semangat yang diwariskan Sang Proklamator terus hidup dalam berbagai program pembangunan di daerah sehingga kebudayaan benar-benar menjadi bagian dari strategi pembangunan bangsa.

“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang menjaga ruang budayanya tetap hidup. Itulah pesan yang harus terus kita rawat dan jalankan,” tegasnya.

Peringatan Bulan Bung Karno tahun ini pun diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pemerintah daerah bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, keberhasilan pembangunan juga ditentukan oleh kemampuan menjaga dan mengembangkan kebudayaan sebagai sumber karakter, identitas, serta kekuatan sosial masyarakat Indonesia. (*)