Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menjadikan Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri II 2026 sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembinaan cabang olahraga (cabor) bela diri di wilayahnya.

Ajang nasional yang akan dilaksanakan di Manado, Sulawesi Utara, pada Juni 2026 mendatang dipandang bukan sekadar kompetisi, tetapi juga sarana pengujian capaian prestasi serta efektivitas sistem pembinaan atlet. Karena itu, KONI Jatim menegaskan akan memperketat proses seleksi atlet dengan pendekatan berbasis data dan peluang medali.

Langkah tersebut ditandai melalui rapat koordinasi antara KONI Jawa Timur dan pengurus delapan cabor bela diri yang akan dipertandingkan di PON Bela Diri II. Delapan cabor tersebut meliputi kurash, kabbadi, muaythai, IBCA MMA, hapkido, tinju, anggar, dan kick boxing. Rapat berlangsung di Gedung KONI Jawa Timur, Surabaya, sebagai tahap awal pematangan persiapan.

Baca Juga:  Penempatan Peserta Magang Dinilai Belum Ideal, Menaker Beri Arahan Perbaikan, Ini Jelasnya 

Evaluasi Kualitas & Kontribusi Bela Diri

Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, menyebut bahwa PON Bela Diri II memegang arti strategis bagi Jawa Timur untuk meningkatkan kontribusi medali dari cabang bela diri yang selama ini dinilai belum optimal dibanding cabor unggulan lainnya.

“PON Bela Diri ini menjadi ajang pembuktian sekaligus evaluasi. Kita akui, kekuatan bela diri Jawa Timur masih perlu ditingkatkan. Karena itu, persiapan harus lebih fokus, terencana, dan berbasis data,” ujar Nabil dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Seleksi Atlet Lebih Ketat & Efisiensi Nomor Pertandingan

Dalam persiapannya, KONI Jatim akan menjalankan seleksi atlet ketat bersama Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres). Atlet dengan rekam jejak prestasi yang kuat, baik tingkat nasional maupun internasional, akan diprioritaskan.

Baca Juga:  Pabrik Beras Oplosan 14 Ton Per Hari Digerebek di Sidoarjo: Beras Medium Disulap Jadi Premium

Kriteria tersebut meliputi:

Peraih medali emas atau perak PON XXI 2024 Aceh–Sumatra Utara

Juara kejuaraan nasional

Peraih prestasi di ajang regional seperti SEA Games 2025

Selain itu, Jawa Timur tidak akan mengirim atlet di semua nomor pertandingan. Nomor yang dinilai minim peluang medali akan dipangkas demi efisiensi anggaran.

“Kami tidak sekadar mengirim atlet untuk berpartisipasi. Fokus kami adalah hasil. Karena itu, hanya nomor yang benar-benar berpotensi medali yang akan diikuti,” tegas Nabil.

Instruksi Analisis Kekuatan Lawan

KONI Jatim juga meminta pengurus cabor untuk melakukan pemetaan kekuatan lawan dari provinsi lain. Data tersebut akan dijadikan dasar penyusunan program latihan yang lebih terukur dan sesuai karakter kompetisi.

Baca Juga:  Ribuan Jamaah Padati Haul Akbar Al-Fitrah Kenjeran

Pemetaan ini mencakup:

Potensi unggulan provinsi lain, Pola strategi, Capaian medali, Profil atlet pesaing.

Manfaatkan Waktu Lebih Panjang

Berbeda dengan PON Bela Diri I 2025 di Kudus yang persiapannya lebih singkat, edisi kedua tahun 2026 memberi waktu jauh lebih panjang bagi kontingen Jawa Timur untuk membenahi pembinaan, rekrutmen atlet, hingga desain latihan.

Mulai dari peningkatan daya tahan fisik, teknik, taktik kompetisi, hingga kesiapan mental diharapkan dapat berjalan lebih komprehensif.

“Kami ingin semua tahapan persiapan berjalan optimal. Dengan persiapan sejak awal tahun, Jawa Timur diharapkan mampu tampil kompetitif dan menjadi salah satu kekuatan utama cabang olahraga bela diri di PON Bela Diri II 2026,” pungkasnya. (*)